UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung Harus Belajar Konsisten dan Kredibilitasnya di Pertanyakan

C Media Group, Cikarang – Istilah konsisten diserap dari kata ‘consistent’ dalam bahasa Inggris yang diperkirakan muncul sekitar tahun 1570 – an. Istilah ‘consistent’ berasal dari istilah ‘consistentem’ yang berarti ‘berdiri dengan kokoh’ atau ‘berdiri tegak’. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, konsisten didefinisikan sebagai kata sifat yang berarti ‘tetap atau tidak berubah.

Tidak konsistennya UIN SGD Bandung dalam menjadi Tim Seleksi Independen Calon Kepala Desa di kabupaten Bekasi ini yang memicu polemik kekisruhan pelaksanaan Pilkades di Kabupaten Bekasi. Berawal dari keputusan Tim Seleksi Idependen Nomor. 01/TSI-Bekasi /2018 tentang Pengumuman Hasil Seleksi Calon Kepala Desa. Yang sehari sebelumnya Tim Seleksi melakukan tes yang di laksanakan Pada Tangal 14 Juli 2018 di Hotel Santika Cikarang Selatan Bekasi.

Menurut NR. Icang Rahardian, SH. Kredibilitas UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung harus di pertanyakan dalam menjadi Tim Seleksi Independen Calon Kades di Kabupaten Bekasi yang ditunjuk oleh Panitia Pilkades tingkat Kabupaten, pasalnya dalam pelaksanaan tes yang dilakukan tidak menggunakan standar nilai yang jelas karena ada calon kepala desa dengan nilai dibawah 60 banyak yang dinyatakan Lulus oleh Tim Seleksi Independen serta dalam pengambilan nilai untuk dinyatak Lulus atau Tidak lulus itu tidak mengacu pada Peraturan Bupati nomor 05 Tahun 2018 yang seharusya ada lima point dalam melakukan penilaian bukan hanya tes tertulis dan wawancara saja.

Padahal sebelumnya UIN SGD Bandung sudah pernah melaksanakan seleksi calon kepala desa. Kali pertama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN SGD Bandung melaksanakan seleksi terhadap 6 Calon Kepala Desa Sindanglaya Kecamatan Cimenyan Kabupaten Bandung untuk mencari pemimpin yang jujur, adil, berkualitas, sholeh sosial dan bertanggungjawab. Mengenai sistem penilai dengan total angka 1000. “Yang mendapatkan total nilai dibawah angka 600 dinyatakan tidak lolos menjadi Calon Kades dan yang mendapatkan angka lebih dari 600 sampai 1000 dinyatakan lolos”. Dikutip dari uinsgd.ac.id.

“Bahwa UIN SGD Bandung tidak konsisten dalam penilaian tes calon kepala desa  karena sebelumnya UIN Bandung melakukan tes di Kabupaten Bandung menggunakan standar nilai minimal 600 dinyatakan Lulus seleksi, sedangkan di Kabupaten Bekasi nilai 60 ada yang tidak Lulus tetapi ada calon Kepala Desa yang mendapatkan nilai 37 dinyatakan Lulus berarti mereka tidak konsisten dalam menentukan standar nilai dalam penyeleksian Calon kepala Desa, dan Kredibilitas UIN Bandung harus dipertanyakan kemampuannya dalam menjadi Tim Seleksi.” Ungkap Icang Rahardian.  (CM)

Share This:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *